Postingan

KERAJAAN YANG KEHILANGAN RAJA

 Pada suatu pagi, seluruh penduduk Kerajaan Arvand bangun dan menemukan bahwa rajanya hilang. Bukan meninggal. Bukan diculik. Hilang. Mahkota masih berada di atas singgasana. Pedang masih tergantung. Sepatu masih tersusun di kamar. Tetapi Raja Edran tidak ada. Para penyihir mencari. Tidak ditemukan. Pasukan mencari ke seluruh penjuru negeri. Tidak ditemukan. Akhirnya seorang tukang kebun tua berkata, "Jangan cari rajanya." Semua orang menatapnya. "Carilah alasan mengapa ia ingin hilang." Tidak ada yang mendengarkan. Kecuali Putri Alena. Ia pergi sendirian. Di luar kerajaan, ia menemukan sebuah rumah kecil di tepi hutan. Seorang laki-laki tua sedang menanam kentang. Alena berhenti. "Ayah?" Laki-laki itu menoleh. Ia tersenyum. "Akhirnya kamu datang." Alena menangis. "Kenapa Ayah meninggalkan kerajaan?" Raja Edran menancapkan cangkul. "Karena selama tiga puluh tahun aku memerintah agar rakyatku bahagia." "Dan?" "Ak...

NAMA YANG TERTINGGAL DI BATU NISAN

 Setiap tahun, Damar datang ke makam yang sama. Tidak ada tanggal lahir. Tidak ada tanggal kematian. Hanya sebuah nama: Laras. Orang-orang mengira Laras adalah kekasihnya. Mereka salah. Laras adalah perempuan yang pernah ditemuinya sekali. Tiga puluh tahun lalu. Saat itu Damar masih berusia tujuh belas tahun. Ia sedang duduk di halte ketika seorang perempuan menangis di sampingnya. "Kamu kenapa?" tanya Damar. "Besok aku menikah." "Terus kenapa menangis?" "Aku tidak ingin menikah." "Kalau begitu jangan." Perempuan itu tertawa. "Sederhana sekali." Mereka berbicara sampai bus terakhir datang. Sebelum pergi, perempuan itu memberikan sebuah kertas. "Kalau suatu hari kamu menemukan makamku, datanglah." Damar mengira itu lelucon. Bertahun-tahun kemudian, ia benar-benar menemukan makam itu. Laras meninggal muda. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi. Damar mulai datang setiap tahun. Ia membawa cerita. Tentang pekerjaan...

LIMA RIBU RUPIAH

 "Pak, uang saya kurang lima ribu." Kasir minimarket menghitung ulang. "Benar, Pak." Saya merogoh semua kantong. Tidak ada. Di belakang saya sudah ada tujuh orang mengantre. Seorang anak kecil berkata kepada ibunya, "Bu, bapaknya miskin." Ibunya langsung mencubit. Saya pura-pura tidak dengar. Kemudian seorang bapak di belakang saya berkata, "Ini, Pak." Ia menyerahkan uang lima ribu. Saya terharu. "Terima kasih." "Sama-sama." Saya membawa belanjaan pulang. Masalahnya, malam itu saya tidak bisa tidur. Saya terus memikirkan uang lima ribu tadi. Besoknya saya kembali ke minimarket. Bapak yang menolong saya ternyata tidak ada. Saya bertanya kepada kasir. "Oh, Pak Joko?" "Iya." "Dia memang sering begitu." "Sering menolong orang?" Kasir mengangguk. "Sering kekurangan lima ribu." Saya bingung. "Jadi dia juga sering tidak punya uang?" "Bukan." Kasir menahan tawa. ...

WARUNG YANG BUKA SETELAH TENGAH MALAM

 Warung itu hanya buka setelah tengah malam. Tidak ada papan nama. Tidak ada alamat. Tidak ada lampu terang. Hanya sebuah warung kecil di tikungan jalan yang jarang dilewati orang. Bima menemukannya pada malam ketika ia kehilangan pekerjaan. Ia masuk. "Pesan apa?" tanya pemilik warung. "Nasi goreng." Laki-laki tua itu mengangguk. Setelah makan, Bima hendak membayar. "Berapa?" "Tidak usah." "Gratis?" "Bayar besok." Bima tertawa. "Kalau saya tidak datang lagi?" Pemilik warung menatapnya. "Semua orang datang lagi." Keesokan malam Bima kembali. Ia menemukan warung itu di tempat yang sama. Ia membayar nasi goreng kemarin. Lalu makan lagi. Begitu setiap malam. Anehnya, setelah rutin makan di sana, hidup Bima mulai membaik. Ia mendapat pekerjaan. Kemudian naik jabatan. Kemudian membeli rumah. Namun setiap kali datang, pemilik warung selalu berkata: "Bayar besok." Sepuluh tahun berlalu. Bima akhirnya pens...

SURAT DARI DIRIKU YANG BELUM LAHIR

 Surat itu datang pada hari ulang tahunku yang keempat puluh. Tidak ada nama pengirim. Hanya sebuah kalimat di bagian depan amplop: Untuk Ayah, sebelum aku lahir. Aku tertawa ketika membacanya. Aku tidak punya anak. Bahkan tidak pernah menikah. Namun di dalamnya terdapat selembar kertas. Tulisan tangannya mirip tulisan tanganku. Ayah, jangan menjual rumah itu. Aku berhenti tertawa. Rumah itu adalah rumah peninggalan ibuku. Aku memang sedang mempertimbangkan menjualnya karena membutuhkan uang. Surat berikutnya datang seminggu kemudian. Ayah, Ibu tidak akan suka kalau Ayah menjual rumah itu. Aku semakin penasaran. Setiap minggu sebuah surat datang. Isinya tentang hal-hal yang belum terjadi. Tentang seorang perempuan bernama Mira. Tentang kecelakaan kecil di jalan. Tentang sebuah pohon mangga yang akan tumbang. Semuanya benar. Sampai surat terakhir. Ayah, aku tahu Ayah ingin bertemu denganku. Tapi kalau Ayah mengikuti semua yang tertulis di surat-surat ini, aku tidak akan pernah lahir...

KURSI KOSONG DI UJUNG PERON

Kereta terakhir selalu berangkat pukul sebelas malam. Itulah yang dikatakan penjaga stasiun kepada Raka ketika ia bertanya mengapa ada seorang perempuan tua yang setiap malam duduk di kursi paling ujung peron. "Jangan diajak bicara." Raka mengira itu hanya kebiasaan orang tua yang suka menakut-nakuti pendatang. Sampai malam ketujuh. Perempuan itu datang tepat pukul sepuluh lewat empat puluh. Ia mengenakan kebaya biru tua, membawa tas kain kecil, lalu duduk menghadap rel. Raka akhirnya memberanikan diri. "Ibu menunggu siapa?" Perempuan itu menoleh. "Anak saya." "Naik kereta?" "Seharusnya." Kereta datang. Perempuan itu berdiri. Tetapi ia tidak naik. Kereta pergi. Ia kembali duduk. Begitu terus. Malam berikutnya Raka bertanya lagi. "Anaknya ke mana?" Perempuan itu tersenyum. "Sudah lama pulang." "Kalau sudah pulang, kenapa Ibu masih menunggu?" "Karena dia belum tahu bahwa dia sudah sampai." Raka meri...

Kenapa Nabi Muhammad Disebut Al-Amin?

Sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad sudah dikenal masyarakat Makkah dengan gelar Al-Amin. Artinya orang yang dapat dipercaya. Beliau dikenal jujur, menjaga amanah, dan tidak menipu. Karena perilakunya terus terlihat dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang mempercayakan barang serta urusan kepada beliau. Gelar itu bukan dibuat sendiri, tetapi muncul dari kepercayaan masyarakat. Ketika beliau kemudian menyampaikan wahyu, sebagian orang menolak ajarannya karena berbagai kepentingan. Namun mereka sebelumnya mengetahui bahwa beliau bukan orang yang biasa berdusta. Kepercayaan dibangun dari perbuatan yang berulang. Kalau hari ini jujur tetapi besok sering berbohong, orang akan ragu. Al-Amin mengingatkan bahwa akhlak baik terlihat dari kebiasaan, bukan hanya ucapan.